Tari Rejang bukanlah tarian yang lahir dari ruang artistik yang kosong. Ia tidak diciptakan oleh seorang koreografer dalam arti modern, tidak pula dibangun dari kebutuhan panggung pertunjukan. Tari ini tumbuh dari tanah yang lebih dalam—tanah keyakinan, tanah tradisi, dan tanah kesadaran kolektif masyarakat Bali yang sejak lama memandang seni sebagai bagian dari hubungan spiritual dengan alam semesta.
Jejak awal Tari Rejang berkaitan erat dengan praktik keagamaan masyarakat Bali, khususnya dalam tradisi Hindu Bali yang berkembang secara lokal. Dalam berbagai sumber lisan dan tradisi turun-temurun, Tari Rejang diyakini sebagai bagian dari upacara yang bersifat sakral, terutama yang berkaitan dengan penghormatan kepada dewa-dewa yang diyakini turun ke dunia manusia pada saat-saat tertentu.
Melalui buku ini semoga dapat memberikan manfaat, tidak hanya sebagai sumber pengetahuan, tetapi juga sebagai pengingat akan pentingnya menjaga warisan budaya. Semoga Tari Rejang tidak hanya tetap hidup sebagai tradisi, tetapi juga terus memberi makna bagi generasi yang akan datang.
